Pernah diplagiat oleh seseorang, yang tidak dia sadari sebetulnya dia telah memberikan komentar pada postingan bab selanjutnya yang terposting terlebih dahulu di sini:
http://ferryzanzad.multiply.com/journal/item/532/Monalisa_Bab_1_Intrik_keluarga_Sforza
========= ooOOoo=========
Prolog

Konon, Leonardo da Vinci memiliki sebuah lukisan yang memuja warna biru. Definisi warna biru pada saat itu berasal dari warna biru yang ada pada lukisan da Vinci. Sayangnya, lukisan itu telah hilang tak terlacak.
Warna biru pada lukisan Leonardo Da Vinci dihasilkan oleh pigmen yang berasal dari batu pualam biru yang hanya ada di pegunungan Itali. Batu biru itu ditumbuk halus dan disaring dengan kehalusan tertentu sesuai dengan kebutuhan si pelukis. Semua proses pengolahan itu dilakukan oleh tenaga terampil terpilih.
Kelangkaan bahan, sulitnya pengiriman dan rumitnya proses pembuatan pigmen biru menyebabkan harga pigmen itu melebihi harga emas. Hanya pelukis-pelukis kaya seperti Leonardo Da Vinci saja yang mampu membeli pigmen itu.
Si pemurung Benitto Cellini Di tahun 1482 Leonardo mengawali karirnya dengan mengabdi pada bangsawan bernama Ludovico Sforza, penguasa Roma yang bergelar Il Moro. Sudah jamak jika seorang artis yang memiliki karir seperti Leonardo da Vinci menjadi guru bagi artis seniman muda. Selain belajar, para garzone itu juga melayani sang seniman menyiapkan segala keperluannya.
Salah satu garzone di studio da Vinci bernama Benitto Cellini. Bertubuh tegap dengan kulit pucat karena kekurangan gizi dan sinar matahari.Seniman muda ini memiliki bakat yang luar biasa. Tetapi kemiskinan memaksanya tetap tenggelam dan mengabdikan hidupnya hanya sebagai seorang garzone bagi da Vinci. Bakatnya yang luar biasa terabaikan oleh gegap gempita pemujaan pada Da Vinci. Warna biru Da Vinci menenggelamkan semua keindahan warna garzone miskin itu.
Benitto menggelandang hampir di sepanjang usianya. Nasibnya sedikit membaik ketika dia menemukan Plaza Baltiore, studio milik Il Moro tempat Leanardo da Vinci menjadi kepala seni. Beberapa ruang kosong di Plaza Baltiore menawarkan kebaikan bagi gembel dan gelandangan Roma di musim dingin dan memeberikan sedikit rasa hangat. Awalnya Benitto menggelandang di Plaza Baltiore sebelum sketsa tangannya menarik perhatian da Vinci.
Pelukis miskin berbakat yang menginginkan pigmen berwarna biru yang harganya tak terjangkau. Rela menukarkan darahnya dengan tetesan pigmen biru.
Santi MonalisaDi antara gelandangan di Plaza Baltiore terdapat seorang gadis yang biasa di panggil Santi. Wajah, perawakan dan sikapnya lebih menyerupai seorang gadis bangsawan daripada gelandangan. Ketenangan dan sopan santunnya memberikan cahaya di gedung Baltiore, dimana penderitaan dan kematian datang silih berganti. Kehadiran Santi membangkitkan semangat hidup. Konon, Santi adalah utusan Tuhan untuk memberikan kebaikan bagi dunia.
Santi Monalisa dan Benitto CelliniSiapapun yang pernah berada di Plaza Baltiore akan meyakini kalau Santi Monalisa dan Benitto Cellini adalah jodoh. Benitto Cellini dengan perawakan besar, kulit pucat dan sifat murungnya memiliki bakat luar biasa sebagai pelukis. Kehadiran Cellini akan dirasakan oleh siapapun di Plaza Baltiore. Dan Santi Monalissa adalah bidadari di tempat itu. Kedua orang itu seperti titipan tuhan yang dipaksakan untuk berada di Plaza Baltiore.
Memang benar keduanya segera jatuh cinta sejak pertama bertemu.
Cesare BorgiaPada Cesare Borgilah akhirnya Leonardo da Vinci mengabdi. Cesare Borgia menjadi penguasa di Florentina dengan menumpahkan darah saudaranya, Giovani Borgia. Kegilaannya pada perang sama besar dengan ketertarikannya pada seni dan kesenangan pada duniawi.
Dia berkeinginan untuk menghidupkan kembali Plaza Baltiore dan mergunjunginya di suatu hari pagi. Di Plaza Baltiore, ketertarikannya yang pertama adalah Santi Monalisa. Lalu prioritasnya berubah dari Plaza Baltiore ke Santi Monalisa. Butuh lebih banyak enerji untuk menaklukkan Santi Monalisa dibandingkan penaklukan Napoli.
Ludovico Sforza, tempat da vinci mengabdi di awal karirnya. 1482 sang Il moro penguasa Roma. Sekali waktu jika engkau berkunjung ke Florentina, masukilah Palazzo Vecchio dan berdirilah di ruang cahaya di tengah hari. Konon, orang yang pernah memasuki cahaya dan terbungkus oleh sinar biru di ruangan itu akan memiliki definisi warna biru yang berbeda. Ruang cahaya dilukis dengan cat jiwa berwarna biru. Cahaya biru yang sebiru-birunya hanya dapat dihasilkan oleh pengorbanan jiwa. Di dalam ruang cahaya di Palazzo Vecchio-lah engkau dapat melihat warna biru yang dihasilkan oleh sebuah jiwa. Jiwa Benitto Cellini sang pelukis murung yang mencintai keindahan warna biru.
Image dari
sini...